jump to navigation

Keutamaan Mendidik Anak 24 Januari 2009

Posted by Ummu 'Ammar in Akhlak dan Adab, Keluarga, Pendidikan Anak.
Tags: , , , ,
trackback

Terkadang Allah menguji manusia setelah ia memiliki banyak anak, yaitu banyaknya anak perempuan. Maka wajib baginya untuk bersabar dan ridha terhadap apa yang telah Allah taqdirkan baginya. Dan janganlah ia menolak qadha’ Allah tersebut. Karena di dalam sabar dan keridhaannya terdapat pahala yang besar.

Akan tetapi kenyataannya kita melihat kebayakan manusia menyikapi ujian tersebut dengan tidak sabar dan marah terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan. Maka di sini kami bawakan beberapa hadits tentang keutamaan mendidik anak perempuan, dengan harapan semoga bisa mengubah keadaan sebagian orang dan mengingatkan yang lupa atau membuat orang yang tidak tahu menjadi tahu. Wabillahi taufiq.

1. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang memiliki anak tiga anak perempuan, lalu ia sabar atasnya, ia member makan mereka, member minum mereka dan member pakaian mereka dari kemampuannya, maka mereka (anak-anak perempuan) itu kelak menjadi pelindung baginya dari api neraka pada hari kiamat.”

(Hadits shahih, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah (294) dan beliau menisbatkannya kepada Imam Ibnu Majah (3669) dan kepada Imam Bukhari di dalam Al-Adabul Mufrad (296) dan beliau menyadur dari Imam Al-Bushiri dalam menshahihkannya.

2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang menanggung/memelihara dua anak perempuannya, atau tiga anak perempuannya, atau dua anak saudarinya, atau tiga saudarinya hingga mereka meninggal (dan di dalam sebuah riwayat disebutkan: hingga mereka menikah, dan di dalam sebuah riwayat lain: hingga mereka balighah) atau hingga ia mati meninggalkan mereka, maka aku dan ia kelak seperti ini” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan dua jarinya; telunjuk dan tengah” (HAdits shahih sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Ash-Shahihah (296) dan beliau nisbatkan kepada Imam Ahmad (3/147 – 148), Imam Ibnu Hibban (2045) dan Imam Thabrani di dalam Al-Ausath. Dan beliau menyatakan: Sesungguhnya hadits ini memenuhi persyaratan Imam Bukhari dan Imam Muslim

3. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa memiliki anak tiga anak perempuan, atau tiga saudari, dan ia bertakwa kepada Allah dengan melaksanakan tanggung jawabnya atas mereka, maka kelak ia bersamaku di Jannah”. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan jari telunjuknya dan jari tengahnya. (Dikeluarkan oleh oleh Imam Abu Ya’la dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani did ala Ash-Shahihah (295).

 

Hendaklah saudara pembaca yang mulia mengetahui bahwa benci (marah) karena mendapat anak perempuan adalah merupakan akhlak jahiliyah yang Allah Ta’ala mencela pelakunya:

 

 

 

 

Sebagaimana di dalam firman Allah Ta’ala:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah Dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (An-Nahl: 58 – 59)

 

Juga firman Allah Ta’ala:

 

“Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan marah.” (az-Zukhruf: 17

Sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla, Dzat yang kerajaan segala sesuatu ada pada-Nya juga befirman:

°

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syura:49 – 50)

 

Maka waspadalah wahai saudaraku! Jangan sampai anda menjadi termasuk di antara orang-orang yang jahil yang murka terhadap taqdir Allah.

 

Dikutip dari buku” Menyambut Si Buah Hati: Salim Rasyid Asy-Syibli, Muhammad Khalifah Muhammad Rabaah, Penulis; Abu Yahya Muslim, Penerjemah; Tim Ash-Shaf Media”

 

 

About these ads

Komentar

1. ummu abdurrohman - 9 Juli 2009

assalamu’alaikum warahmatullohi wa barokaatuh

Kami baru kehilangan seorang anak, dia kembali pada Sang Pemilik.
Mohon kiranya berikan kami hadits2 tentang kematian anak yg masih kecil, yg dpt sebagai pelipur duka kami.
Karena kami yakin, janji Alloh itu pasti.

Jazakillahu khoir

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatuh

Ummu 'Ammar - 9 Juli 2009

Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh,

Berikut hadits yang ana kutip dari kitab “AHKAMUL JANAIZ, Tuntunan Pengurusan Jenazah & Ziarah Kubur” Karya Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Dari Qurrah Al-Mulzani Radhiallahu anhu, ia mengatakan: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila duduk, maka beberapa orang dari para shahabat duduk pula bersama beliau. dan di antara mereka ada seorang yang memiliki anak kecil yang ia gendong di punggungnya lalu ia dudukkan di depannya (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Engkau mencintainya?” Ia menjawab: “Ya wahai Rasulullah semoga Allah mencintai engkau seperti saya mencintainya!”) Lalu anak itu meninggal sehingga ia (Bapak anak tersebut) tidak bisa datang ke halaqah (majelis) itu karena selalu ingat kepada anaknya dan ia sangat bersedih. Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa sallam pun mencari-carinya: “Mengapa aku tidak melihat si Fulan?” Mereka menjawab: “Ya Rasulullah, anak kesayangannya yang engkau lihat itu meninggal.”
Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuinya lalu menanyakan anak kesayangannya itu. Ia memberitahukan kepada beliau bahwa anak itu telah meninggal. Akhirnya Nabi Shallalallahu ‘alaihi wa sallam berta’ziyah kepadanya.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Wahai fulan! Mana yang lebih engkau cintai: Engkau bersenang-senang dengannya sepanjang umurmu atau kelak engkau datang ke salah satu pintu diantara pintu-pintu jannah melainkan engkau dapati ia telah mendahuluimu dan membukakan pintu itu untukmu?”
Ia menjawab: “Ya Nabi Allah, ia mendahului saya ke salah satu pintu jannah lalu ia membukakan untuk saya, itulah yang lebih saya cintai,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Ya, itulah untukmu.”
(Berkatalah salah seorang shahabat Anshar): “Ya Rasulullah! (Semoga Allah menjadikan saya sebagai tebusanmu) Apakah itu khusus untuknya saja ataukah untuk kami semua?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ya, untuk kalian semua.”

Dilkeluarkan oleh Imam Nasa’i (1/296) dan teks hadits ini ada pada beliau, Imam Ibnu Hibban didalam Shahih-nya, Imam Al-Hakim (1/384) dan Imam Ahmad (5/35). Berkata Imam Al-Hakim: Sanadnya shahih, disepakati oleh Imam Dzahabi. Memang sebagaimana yang mereka katakan.
Dikeluarkan juga oleh Imam Nasa’i (1/264) hadits yang semisalnya. Juga oleh Imam Baihaqi didalam As-Sunan (4/59 dan 60) dan didalam Al-Adab (hal. 438-439), hanya saja beliau tidak membawakan bagian awalnya dengan sempurna. Dan pada beliau ada semua tambahan itu kecuali yang pertama. Hadits ini ada pendukungnya didalam Al-Majma (3/10).

Sekian.
Semoga dapat menjadi berita gembira bagi anti akan janji Allah ta’ala dan Rasul Nya
Baarakallahu fiykum…..

2. ummu abdurrohman - 12 Juli 2009

Subhanalloh walhamdulillah ..

Jazakillahu khoiron katsiiron

Wa anti jazaakillah khayran

Wa baarokallohu fiik ..

Wa fiyki baarakallah

3. aliyah - 13 Juli 2009

Assalamu’alaykum

Wa’alaykumussalam warahmatullah wabarakatuh

barakallahufiky…..

Wa fiyki baarakallah


Sorry comments are closed for this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 243 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: